-->

Nurhadi tertangkap,Namun persembunyian Harun Masiku belum terungkap.

Hampir 4 bulan menjadi Buronan KPK, akhirnya Eks Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono tertangkap pada Senin malam. Namun, tempat persembunyian buronan KPK lainnya, Harun Masiku masih belum terungkap.

Sebagaimana diketahui, Nurhadi bersama Rezky dan Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto (HS) dijerat sebagai tersangka oleh KPK pada 16 Desember 2019. Nurhadi dan Rezky ditetapkan sebagai tersangka penerima suap dan gratifikasi senilai Rp 46 miliar terkait pengurusan sejumlah perkara di MA, sedangkan Hiendra ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap.

Penerimaan tersebut terkait, pertama, perkara perdata PT MIT melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) (Persero) pada 2010.

KPK menetapkan status DPO terhadap tersangka NHD, RHE, dan HS. Sejak ditetapkan DPO, penyidik KPK dengan dibantu pihak Polri terus aktif melakukan pencarian terhadap orang dalam DPO, antara lain dengan melakukan penggeledahan rumah di berbagai tempat, baik di sekitar Jakarta maupun Jawa Timur.

Namun, akhirnya pelarian Nurhadi dan Rizky kandas juga. Mereka ditangkap oleh tim KPK pada Senin malam.

"Hari Senin, tanggal 1 Juni 2020, tim KPK melakukan penangkapan terhadap tersangka NHD (Nurhadi) dan RHE (Rezky Herbiyono)," kata Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (2/6/2020).

Nurul menjelaskan, tim penyidik KPK mendapat informasi dari masyarakat mengenai keberadaan dua tersangka yang berstatus DPO tersebut. Selanjutnya berdasarkan informasi tersebut, tim bergerak ke Jl Simprug Golf 17 No 1, Grogol Selatan, Kebayoran Lama, yang diduga digunakan sebagai tempat persembunyian NHD dan RHE.

Memasuki pukul 21.30 WIB, dengan dilengkapi surat perintah penangkapan dan penggeledahan, penyidik KPK mendatangi rumah tersebut untuk melakukan penggeledahan.

Dia menuturkan, awalnya tim penyidik KPK bersikap persuasif dengan mengetuk pagar rumah, tapi tidak dihiraukan. Kemudian penyidik KPK dengan didampingi ketua RW setempat dan pengurus RT setempat melakukan upaya paksa dengan membongkar kunci pintu gerbang dan pintu rumah tersebut.

Penyidik KPK berhasil masuk ke dalam rumah, di salah satu kamar ditemukan tersangka NHD dan di kamar lainnya ditemukan tersangka RHE dan langsung dilakukan penangkapan terhadap keduanya. Mereka pun langsung dibawa ke kantor KPK dan langsung ditahan KPK selama 20 hari pertama.

"Penahanan rutan dilakukan kepada dua orang tersangka tersebut selama 20 (dua puluh) hari pertama terhitung sejak 2 Juni 2020 sampai 21 Juni 2020 masing-masing di Rumah Tahanan KPK Kavling C1," kata Nurul Ghufron.

Penangkapan Nurhadi dan Rizky ini menuai apresiasi dari Indonesia Corruption Watch (ICW). Meski demikian, ICW tetap memberikan sejumlah catatan ke KPK.

"Penangkapan ini dilakukan setelah KPK memasukkan nama keduanya dalam daftar pencarian orang sejak Februari lalu. Dalam hal ini, tentu kinerja tim penyidik KPK layak diapresiasi bersama. Namun permasalahan ini pun tidak bisa dipandang selesai dengan hanya melakukan penangkapan terhadap dua buron KPK tersebut. Indonesia Corruption Watch setidaknya memiliki beberapa catatan," kata peneliti ICW Kurnia Ramadhana dalam keterangan pers, Selasa (2/6/2020).

Selain itu, Kurnia berharap KPK juga terus menelusuri pihak lain yang terkait dengan perkara tersebut. Dia juga mengingatkan KPK, beberapa buron KPK lain masih belum terungkap tempat persembunyiannya. Salah satunya ialah tersangka suap PAW anggota DPR Harun Masiku.

"Untuk itu, pimpinan KPK lebih baik tidak larut dengan euforia atas penangkapan Nurhadi dan Rezky ini. Sebab, masih ada buron lain yang tak kalah penting untuk segera dilakukan penangkapan, seperti Harun Masiku, Samin Tan, Sjamsul Nursalim, Itjih Nursalim, Izil Azhar, dan Hiendra Soenjoto," tutur Kurnia.

Untuk ketahui, ketiga tersangka kasus suap PAW anggota DPR, yakni Wahyu Setiawan, Agustiani Tio Fridelina, dan Saeful Bahri, telah masuk tahap persidangan terlebih dahulu. Saeful telah divonis divonis 1 tahun 8 bulan penjara dan denda Rp 150 juta subsider 4 bulan kurungan, sedangkan Wahyu dan Agustiani Tio didakwa menerima suap dari Saeful senilai Rp 600 juta terkait PAW anggota DPR Harun Masiku.

Selain menerima suap, Wahyu didakwa menerima gratifikasi. Wahyu didakwa menerima gratifikasi Rp 500 juta dari Sekretaris KPU Provinsi Papua Barat Rosa M Thamrin Payapo.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Nurhadi tertangkap,Namun persembunyian Harun Masiku belum terungkap."

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel